<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-783632003528069825</id><updated>2012-02-17T01:35:37.551+07:00</updated><title type='text'>dexdickens blog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dedexmulman.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/783632003528069825/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedexmulman.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Mulman Prasetya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14786058357736468593</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_awvYfCdLlx4/SaSYLjsDR_I/AAAAAAAAAAs/RtH2PfvAfaA/S220/n1661743753_101535_9022.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-783632003528069825.post-277416227572249718</id><published>2009-02-04T08:04:00.002+07:00</published><updated>2009-02-04T08:20:36.370+07:00</updated><title type='text'>Gelar Palsu &amp; Kepribadian</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"  &gt;Seringkali kita terheran-heran ketika seseorang yang kebetulan kita kenal  dan sebelumnya tidak memiliki gelar apa-apa tiba-tiba sudah menyandang gelar setingkat Magister atau Doktor. Lebih heran lagi jika hal itu terjadi pada individu yang tinggal di kota dimana tidak ada Universitas resmi yang menyelenggarakan program setingkat  S2 (magister) atau S3 (doktor).  Komentar yang keluar dari sebagian orang adalah: kapan kuliahnya? Kok gampang amat dapat gelar doktor? Tesisnya tentang apa ya?   Kok bisa dia dapat gelar itu padahal dia khan cuma tamatan SMU?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"  &gt;Komentar-komentar                         tersebut tentu amat wajar dan beralasan mengingat bahwa                         untuk meraih gelar S2 (magister) atau S3 (doktor)                         sungguhan  bukanlah sesuatu hal yang mudah. Sebagai                         contoh: untuk lulus seleksi dan masuk ke jenjang                         pendidikan di tingkat S2 memerlukan berbagai persyaratan,                         seperti jumlah IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) ditingkat                         S1  harus mencapai 3,00 (dgn score tertinggi:                         4,00), Score TOEFL harus mencapai 500 atau lebih, Score                         Test Potensi Akademik (TPA) harus mencapai 550 ke atas,                         dsb. Lulus seleksi juga belum menjamin bahwa seseorang                         akan bisa meraih gelar  yang diingingkannya karena ia                         masih harus mengikuti kuliah dengan jumlah SKS tertentu,                         membuat makalah, melakukan penelitian dan membuat tesis.                         Semua ini membutuhkan kerja keras dan ketekunan                          yang menyita waktu bertahun-tahun. Mereka yang pernah                         melewati proses ini pasti tahu apa artinya pengorbanan                         yang harus dilakukan untuk memperoleh sebuah gelar                         akademik yang pantas. Membaca berbagai buku teori,                         melakukan penelitian, menguji hipotesis,                         mempresentasikan karya ilmiah di depan dosen-dosen                         penguji merupakan beberapa contoh kegiatan dalam proses pendidikan yang panjang                         dan melelahkan yang harus dilalui para penuntut ilmu.  Rata-rata waktu                         yang dibutuhkan untuk  jenjang pendidikan S2                          adalah antara 3 s/d 5 tahun, sementara S3 di luar negeri                         adalah 4 s/d 8 tahun, bahkan ada juga yang baru berhasil                         menyelesaikan kuliah setelah menjalaninya selama 10                         tahun. Lamanya  waktu yang harus ditempuh tersebut                         , bagi orang dewasa apalagi jika kuliah sambil bekerja,                         bukanlah suatu hal yang mudah. Oleh karena itu tidak                         jarang bahwa beberapa mahasiswa tidak berhasil                         menyelesaikan kuliahnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"  &gt;Kondisi                         tersebut amat berbeda dengan program S2 atau S3 yang                         ditawarkan banyak "lembaga pendidikan" model                         "instant" yang membuka program-program di                         hotel-hotel berbintang atau bahkan kuliah di tempat                         kerja (kantor) peserta. Untuk masuk ke program yang                         ditawarkan, peserta hanya cukup mengisi formulir,                         memilih gelar yang diinginkan, lalu membayar biaya                         jutaan rupiah( contoh: Rp                         5 juta s/d Rp 10 Juta untuk gelar MM, MSc, MBA, BBA dan                         Rp  20 juta s/d 30 juta untuk gelar Doktor atau                         Profesor) dan selanjutnya tinggal menunggu konfirmasi                         dari pihak penyelenggara kapan ada "pertemuan"                         dan jadwal wisuda. Mahasiswa yang mengikuti                         program ini cukup mengikuti beberapa kali perkuliahan                         atau menyelesaikan                         beberapa modul yang biasanya dikirim ke rumah, menyetor                         sejumlah uang , mengikuti widusa (terkadang di luar                         negeri) lalu memperoleh ijazah dan segera menyandang                         gelar.  Gampang dan cepat, ibarat membuat Mie                         Instant.  Praktek seperti inilah yang sekarang kita kenal                         dengan istilah "jual beli gelar". Jual beli                         gelar ini nampaknya tidak pernah surut bahkan semakin                         banyak peminatnya. Gelar kehormatan seperti Doktor                         Honouris Causa yang seharusnya hanya diberikan kepada                         seseorang yang  telah berjasa dan memiliki prestasi                         luar biasa di suatu bidang tertentu (terutama untuk                         pengembangan ilmu  pengetahuan) pun tidak luput                         dari praktek jual beli ini. Oleh karena itu tidaklah                         mengherankan jika suatu saat kita menemukan ternyata                         salah seorang rekan atau kenalan kita tiba-tiba sudah                         menyandang gelar doktor tersebut, sementara kita tahu                         dengan pasti orang tersebut tidak memiliki prestasi luar                         biasa di masa sekolah atau pun di masyarakat&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;*Penyebab&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;                                                &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 12px; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;                         &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Gelar adalah                         Lambang Status&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 12px; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Di                         sebagian masyarakat Indonesia yang cenderung masih memiliki pola                         pikir feodalistik, gelar &lt;i&gt; (degree)&lt;/i&gt; merupakan suatu                         kebanggaan luarbiasa dan sekaligus lambang status sosial                         pemiliknya di dalam masyarakat.  Tidaklah                         mengherankan jika seseorang yang telah berhasil                         menyelesaikan studi dan memperoleh gelar akan disambut                         oleh pihak keluarga bagaikan pahlawan yang baru kembali                         dari medan perang. Serangkaian upacara dan selamatan/syukuran                         dengan mengundang relasi atau bahkan orang sekampung                         dilakukan untuk menyambut sang sarjana/magister/doktor                         tersebut. Tidak sebatas itu saja, ucapan selamat pun                         mengalir dan dipamerkan di koran-koran atau majalah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 12px; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;                                                &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Tidak                         ada yang salah dengan tradisi tersebut diatas, asalkan                         memang sang penerima gelar benar-benar memperolehnya                         dengan cara yang layak. Sambutan maupun ucapan selamat                         merupakan suatu hal yang wajar dan pantas diterima sebab                         untuk memperoleh gelar yang asli memang ibarat                          memenangkan pertempuran. Bayangkan saja,  berapa                         banyak peserta program S2 atau S3 yang harus berpisah                         dengan anggota keluarganya, tak jarang ia harus                         menggadaikan harta benda miliknya dan berjuang seorang                         diri demi memperoleh gelar dari sebuah universitas                         ternama di dalam maupun di luar negeri. Oleh karena itu                         sangatlah wajar jika mereka menganggap bahwa gelar yang                         diperolehnya merupakan suatu prestise dan kebanggaan                         tersendiri karena dihasilkan melalui kerja keras dan                         ketekunan selama bertahun-tahun. Sayangnya jika tradisi                         seperti ini juga berlaku untuk penerima gelar palsu (gelar                         belian) maka                         esensi suatu gelar yang seharusnya lebih mengutamakan bobot ilmu                         dan karakter pribadi yang dimiliki oleh sang pemegang                         gelar tersebut, daripada sekedar ijazah atau nama gelar                         yang mentereng, menjadi luntur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 12px; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Mutu                         Pendidikan Nasional&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 12px; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Masyarakat                         sudah sangat paham dengan  mutu pendidikan di                         negeri ini. Posisi SDM dan peringkat perguruan tinggi                         kita merosot amat rendah dibanding dengan negara-negara                         tetangga seperti Singapura maupun Malaysia. Oleh karena                         itu, bagi orang-orang berkantong tebal dan berpikir                         praktis mungkin akan timbul pemikiran untuk apa                         capek-capek meraih kesarjanaan formal yang hasilnya juga                         tidak membuat "lebih pintar", tidak siap kerja,                         lama selesainya,                         dan biaya yang dikeluarkan pun tidak jauh berbeda dengan                         "sarjana yang dibeli". Orang-orang seperti                         inilah yang kemudian tanpa ragu dan malu, memejeng gelar                         palsu. Hal ini bisa terjadi karena                         masyakarat terkadang sulit membedakan mutu antara gelar sarjana                         sungguhan dengan gelar sarjana belian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 12px; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Tuntutan                         Dunia Kerja&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 12px; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Tuntutan                         dunia kerja yang lebih menggantungkan penilaian pada                         sertifikat, ijazah dan gelar juga semakin menguatkan                         pendapat bahwa ijazah dan gelar merupakan jaminan                         kesuksesan dalam berkarir. Tidaklah menjadi rahasia lagi                         bahwa di Instansi-instansi tertentu, ijazah dan gelar                         adalah modal utama untuk kenaikan pangkat dan                         penghargaan (terlepas dari apakah itu gelar formal atau                         palsu) dibandingkan dengan performa kerja pegawai. Oleh                         karena itu jangan heran jika para pejabat di instansi                         tersebut tiba-tiba beramai-ramai mengikuti program S2                         atau S3 kelas jauh dari universitas tertentu dalam                         rangka untuk mendapat promosi jabatan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 12px; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;                                                &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;*Kepribadian                         Narsisistik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Jika                         kita bertanya pada masing-masing individu maka saya                         yakin sebagian besar akan menjawab bahwa gelar "tidak                         bisa dibeli dengan uang". Gelar hanya dapat dibeli                         dengan ketekunan, kerja keras, kejujuran akademik,                         kematangan berpikir, kedewasaan, sikap pantang menyerah,                         berkutat dengan teori dan data, persisten, dan tidak ada                         jalan pintas. Tak ada gelar yang ditawarkan begitu saja.                         Proses seleksinya sangat ketat, bukan masuk tanpa test                         dan cukup mengisi formulir saja. Teman-teman yang telah                         melalui proses ini pasti merasakan betapa sulitnya                         menuntut ilmu dan memperoleh gelar akademik&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Meski semua orang                         tahu bahwa gelar merupakan suatu yang membanggakan dan                         lambang status sosial, namun banyak juga individu yang                         justru tidak mau tahu dengan gelar yang diperolehnya.                         Bagi individu semacam ini gelar atau ijazah tidak lebih                         dari sebatas tanda penghargaan dan pengakuan atas jasa                         atau hasil jerih payahnya selama menuntut ilmu sebagai                         persyaratan memperoleh gelar tersebut.                          Individu-individu seperti ini tidak silau dengan gelar,                         bahkan sedapat mungkin mereka tidak akan mencantumkan                         gelar di depan atau dibelakang namanya. Bagi mereka ilmu                         pengetahuan yang diperoleh merupakan segala-galanya.                         Oleh karena itu mereka lebih banyak memperlihatkan karya                         nyata di bidang keilmuannya dengan cara memberikan                         pemikiran-pemikiran baru dan berusaha membantu orang                         lain sesuai dengan kompetensinya daripada menonjolkan                         gelar tersebut&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;                                                &lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Individu                         yang tidak silau dengan gelar seperti yang telah saya                         sebut diatas amat berbeda karakternya dengan mereka yang                         menganggap bahwa gelar adalah segala-galanya.  Bagi                         individu seperti ini ijazah dan gelar adalah modal hidup                         sehingga harus diperoleh (apapun caranya) dan jika sudah                         didapat maka harus diketahui oleh semua orang. Bagi                         mereka ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak lagi                         merupakan suatu hal yang penting. Individu-individu                         jenis inilah yang dengan bangga memasang iklan-iklan                         ucapan selamat dengan &lt;i&gt; space &lt;/i&gt; dan tulisan besar di                         koran-koran. Lucunya ucapan selamat tersebut                         seringkali justru datang dari dirinya sendiri. Artinya                         ucapan selamat tersebut jika ditelusuri lebih lanjut                         ternyata dikirim oleh perusahaan-perusahaan miliknya                         atau sanak                         keluarganya sendiri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Apa                         sebenarnya                         yang terjadi dalam diri si pembeli gelar yang                         tanpa malu dan canggung memamerkan gelar atau ijazah                         tersebut di depan orang lain.  Apakah mereka mengalami gangguan                         kepribadian? Menurut pandangan saya, jika pembelian                         gelar tersebut dilakukan secara sadar dengan                         pertimbangan matang demi memenuhi ambisi-ambisi pribadi                         dengan mengabaikan rasa keadilan masyarakat (terutama                         bagi para pemegang gelar asli) maka sudah tentu dapat                         dikatakan bahwa individu tersebut memang mengalami                          gangguan kepribadian. Namun demikian jika individu                         dipengaruhi oleh cara-cara yang tidak profesional atau                         dibohongi oleh para penyelenggara program gelar palsu                          maka tentu tidak adil jika dikatakan bahwa individu                         pembeli gelar tersebut mengalami gangguan kepribadian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Menurut                         DSM-IV &lt;i&gt;(Diagnostic and Statistical Manual of Mental                         Disorders - Fourth Edition)&lt;/i&gt; individu dapat dianggap                         mengalami gangguan kepribadian narsissistik jika ia sekurang-kurangnya memiliki 5                         (lima) dari 9 (sembilan) ciri kepribadian sebagai                         berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="font-family: Trebuchet MS; font-size: 10pt; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;li&gt;                             &lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 6px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Merasa                             diri paling hebat namun seringkali tidak sesuai                             dengan potensi atau kompetensi yang dimiliki &lt;i&gt;(has a grandiose sense of                             self-important).&lt;/i&gt; Ia                             senang memamerkan apa yang dimiliki termasuk gelar (prestasi)                             dan harta benda. &lt;/span&gt;                           &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                             &lt;p style="margin-right: 15px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Percaya                             bahwa dirinya adalah spesial dan unik &lt;i&gt;(believe                             that she or he is special and unique).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;                           &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                             &lt;p style="margin-right: 15px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Dipenuhi                             dengan  fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan,                             kepintaran, kecantikan atau cinta sejati &lt;i&gt;(is                             preoccupied with fantasies of unlimited success,                             power, briliance, beauty, or ideal love)&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;                           &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                             &lt;p style="margin-right: 15px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Memiliki                             kebutuhan yang eksesif untuk dikagumi &lt;i&gt;(requires                             excessive admiration).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;                           &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                             &lt;p style="margin-right: 15px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Merasa                             layak untuk diperlakukan secara istimewa &lt;i&gt;(has a                             sense of entitlement).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;                           &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                             &lt;p style="margin-right: 15px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Kurang                             empathy  &lt;i&gt;(lacks of empathy: is unwilling to                             recognize or identify with the feelings and needs of                             others).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;                           &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                             &lt;p style="margin-right: 15px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Mengeksploitasi                             hubungan interpersonal &lt;i&gt;(is interpersonally                             exploitative).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;                           &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                             &lt;p style="margin-right: 15px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Seringkali                             memiliki rasa iri pada orang lain atau menganggap                             bahwa orang lain iri kepadanya &lt;i&gt;(is often envious                             of others or believes that others are envious of him                             or her)&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;                           &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                             &lt;p style="margin-right: 15px;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Angkuh                             &lt;i&gt;(shows arrogant, haughty behavior or attitudes)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Meskipun                         mungkin tidak semua ciri tersebut diatas dimiliki oleh                         para pembeli gelar namun setidaknya beberapa ciri sudah                         cukup menunjang adanya  gangguan kepribadian tersebut.                         Untuk lebih jelasnya maka saya mencoba memberikan                         beberapa ciri kepribadian yang biasanya dimiliki oleh                         individu-individu yang seringkali mengambil jalan pintas                         untuk memperoleh apa yang diinginkannya, termasuk gelar,                         sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Merasa diri paling hebat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Jika                         seseorang merasa dirinya paling hebat/penting (bedakan                         dengan orang yang benar-benar hebat/penting) maka ia                         tidak akan malu-malu untuk memamerkan apa saja yang bisa                         memperkuat citranya tersebut. Selain itu untuk mendukung                         citra / image yang dibentuknya sendiri, individu rela menggunakan                         segala cara. Oleh karena itu ketika orang tersebut                         berhasil memperoleh gelar (tanpa mempedulikan bagaimana                         cara memperolehnya) maka ia tidak akan segan atau                         malu-malau untuk memamerkannya kepada orang lain. Bagi                         mereka hal ini sangat penting agar orang lain tahu                          bahwa ia memang orang yang hebat. Tidak heran cara-cara                         seperti mengirimkan ucapan selamat atas gelar yang                         diperoleh secara instant (dibeli) di koran-koran oleh                         "diri sendiri" dianggap bukan suatu hal yang                         aneh&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fantasi kepintaran &amp;amp; kesuksesan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Pintar dan sukses                         adalah impian setiap orang. Meski demikian hanya sedikit                         orang yang bisa mewujudkan impian tersebut. Pada                         individu pembeli gelar sangatlah mungkin mereka                         menganggap bahwa                         kesuksesan yang telah mereka capai (cth: punya jabatan)                         belum cukup jika tidak diikuti dengan gelar akademik                         yang seringkali dianggap sebagai simbol "kepintaran"                         seseorang. Sayangnya untuk mencapai hal ini mereka                         seringkali tidak memiliki modal dasar yang cukup karena                         adanya berbagai keterbatasan seperti tidak punya                         latarbelakang pendidikan yang sesuai, tidak memiliki                         kemampuan intelektual yang bagus atau tidak memiliki                         waktu untuk sekolah lagi.  Hal ini membuat mereka                         memilih jalan pintas dengan cara membeli gelar sehingga                         terlihat bahwa dirinya telah memiliki kesuksesan dan                         kepintaran (kenyataannya hal tersebut hanyalah fantasi                         karena gelar seharusnya diimbangi dengan ilmu yang                         dimiliki)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sangat ingin dikagumi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Pada                         umumnya para  pembeli gelar adalah para individu                         yang sangat terobsesi untuk dikagumi oleh orang lain.                         Oleh karena itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk                         mendapatkan "simbol-simbol" yang dianggap menjadi                         sumber kekaguman, termasuk  gelar akademik. Obsesi                         untuk memperoleh kekaguman ini sayangnya seringkali                         tidak seimbang dengan kapasitas (kompetensi) diri sang                         individu tersebut (cth: tidak memenuhi syarat jika harus                         mengikuti program pendidikan yang sesungguhnya).                         Akhirnya dipilihlah jalan pintas demi mendapatkan simbol                         kekaguman tersebut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kurang Empathy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Para pembeli gelar                         pastilah bukan orang yang memiliki empati, sebab jika                         mereka memilikinya maka mereka pasti tahu bagaimana                         perasaan para pemegang gelar asli yang memperoleh gelar                         tersebut dengan penuh perjuangan. Jika mereka memiliki                         empati pastilah mereka dapat merasakan betapa sakit hati                         para pemagang gelar sungguhan karena kerja keras mereka                         bertahun-tahun disamakan dengan orang yang hanya bermodal                         uang puluhan juta rupiah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Merasa layak memperoleh Keistimewaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Setiap                         individu yang mengalami gangguan kepribadian                         narsissistik merasa bahwa dirinya berhak untuk                         mendapatkan keistimewaan. Karena merasa dirinya istimewa                         maka dia tidak merasa bahwa untuk memperoleh sesuatu dia                         harus bersusah payah seperti orang lain. Oleh karena itu                         mereka tidak merasa risih atau pun malu jika membeli                         gelar karena bagi mereka hal itu merupakan suatu                         keistimewaan yang layak mereka dapatkan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Angkuh dan sensitif terhadap kritik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Pada                         umumnya para penyandang gelar palsu sangat marah dan                         benci pada orang-orang yang mempertanyakan hal-hal yang                         menyangkut gelar mereka. Bagi mereka, orang-orang yang                         bertanya tentang hal itu dianggap sebagai orang-orang                         yang iri atas keberhasilan mereka. Jadi tidaklah                         mengherankan jika anda bertanya pada seseorang yang                         membeli gelar tentang ilmu atau tesis atau desertasinya                         maka ia akan balik bertanya bahkan menyerang anda                         sehingga permasalahan yang ditanyakan tidak pernah akan                         terjawab. Bahkan mereka akan menghindari                         pembicaraan yang menyangkut hal-hal akademik&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepercayaan diri yang semu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Jika dilihat lebih                         jauh maka rata-rata individu yang mengambil                         jalan pintas dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan                         seringkali                         disebabkan karena rasa percaya dirinya yang semu. Di                         depan orang lain mereka tampak tampil penuh percaya diri                         namun ketika dihadapkan pada persoalan yang sesungguhnya                         mereka justru menarik diri karena merasa bahwa dirinya                         tidak memiliki modal dasar yang kuat. Para individu                         yang membeli gelar umumnya adalah mereka yang takut                         bersaing dengan para mahasiswa biasa. Mereka kurang                         percaya diri karena merasa bahwa dirinya tidak mampu,                         tidak memenuhi persyaratan dan takut gagal. Daripada                         mengikuti prosedur resmi dengan risiko kegagalan yang                         cukup tinggi (hal ini sangat ditakutkan oleh para                         individu narsisistik) maka lebih baik memilih jalan pintas                         yang sudah pasti hasilnya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;Negara                         ini sudah terlalu lama berada dalam kondisi yang tidak                         sehat. Di berbagai sektor kita dapat melihat carut-marut                         penyelenggaraan negara kita ini. Relakah kita jika dalam                         dunia akademik, yang katanya menjadi ujung tombak untuk                         memajukan sumber daya manusia, dikotori oleh                         praktek-praktek jual beli gelar yang sangat                         memalukan dan merupakan pembodohan bangsa ini? Dan                         relakah kita jika negara ini dibanjiri oleh para doktor                         yang ternyata sebagian besar adalah doktor honoris causa                         dari universitas-universitas yang tidak jelas                         juntrungannya?  Jika tidak rela, mari segera mengambil                         tindakan nyata&lt;/span&gt;                       &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 12px; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;                         &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/783632003528069825-277416227572249718?l=dedexmulman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedexmulman.blogspot.com/feeds/277416227572249718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedexmulman.blogspot.com/2009/02/gelar-palsu-kepribadian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/783632003528069825/posts/default/277416227572249718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/783632003528069825/posts/default/277416227572249718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedexmulman.blogspot.com/2009/02/gelar-palsu-kepribadian.html' title='Gelar Palsu &amp; Kepribadian'/><author><name>Mulman Prasetya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14786058357736468593</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_awvYfCdLlx4/SaSYLjsDR_I/AAAAAAAAAAs/RtH2PfvAfaA/S220/n1661743753_101535_9022.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-783632003528069825.post-4304584715231505369</id><published>2009-02-02T09:34:00.002+07:00</published><updated>2009-02-02T09:46:54.933+07:00</updated><title type='text'>Perilaku Berjudi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Perjudian                       sama halnya dengan pelacuran,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Sama                         seperti bangsa-bangsa lain di dunia, perilaku berjudi                         juga merebak dalam masyarakat Indonesia. Namun karena                         hukum yang berlaku di Indonesia tidak mengijinkan adanya                         perjudian, maka kegiatan tersebut dilakukan secara                         sembunyi-sembunyi. Perjudian dalam masyarakat Indonesia                         dapat dijumpai di berbagai lapisan masyarakat.                         Bentuk-bentuk perjudian pun beraneka ragam, dari yang                         tradisional seperti perjudian dadu, sambung ayam,                         permainan ketangkasan, tebak lagu sampai pada penggunaan                         teknologi canggih seperti judi melalui telepon genggam                         atau internet. Bahkan kegiatan-kegiatan olahraga seperti                         Piala Dunia 2002 (Worldcup 2002) yang baru saja                         berlangsung tidak ketinggalan dijadikan sebagai lahan                         untuk melakukan perjudian. Perjudian &lt;i&gt;online&lt;/i&gt; di                         internet pun sudah sangat banyak dikunjungi para penjudi,                         meskipun tidak diperoleh data apakah pengguna internet                         Indonesia sering ngebrowse ke situs-situs tersebut. &lt;i&gt;Webstakes.com&lt;/i&gt;                         dan &lt;i&gt;Aceshigh.com&lt;/i&gt; merupakan dua nama situs judi &lt;i&gt;online&lt;/i&gt;                         yang telah dikunjungi oleh jutaan pengunjung, sebagai mana                         dilansir oleh majalah info komputer (dalam Glorianet.org).                         Dari sekian banyak jumlah pengunjung yang masuk bukan                         tidak mungkin bahwa pengunjungnya adalah orang                         Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Setiap                         perilaku manusia pada dasarnya melibatkan                         pilihan-pilihan untuk merespon ataukah membiarkan suatu                         situasi berlalu begitu saja. Pada umumnya setiap pilihan                         yang diambil akan membawa kepada suatu hasil yang hampir                         pasti atau dapat diramalkan. Namun&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;demikian ada kalanya pilihan tersebut jatuh pada                         sesuatu yang tidak dapat diramalkan hasilnya. Jika                         pilihan yang diambil jatuh pada hal yang demikian maka                         dapat dikatakan bahwa kita telah memberikan peluang                         untuk kehilangan sesuatu yang berharga. Dengan kata lain                         kita telah terlibat dalam suatu “perjudian” &lt;i&gt;(gambling).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Perjudian                         &lt;i&gt;(gambling)&lt;/i&gt; dalam kamus Webster didefinisikan                         sebagai suatu kegiatan yang melibatkan elemen risiko.                         Dan risiko didefinisikan sebagai kemungkinan terjadinya                         suatu kerugian. Sementara Robert Carson &amp;amp; James                         Butcher (1992) dalam buku &lt;i&gt;Abnormal Psychology and                         Modern Life,&lt;/i&gt; mendefinisikan perjudian sebagai                         memasang taruhan atas suatu permainan atau kejadian                         tertentu dengan harapan memperoleh suatu hasil atau                         keuntungan yang besar. Apa yang dipertaruhkan dapat saja                         berupa uang, barang berharga, makanan, dan lain-lain                         yang dianggap memiliki nilai tinggi dalam suatu                         komunitas&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;perjudian tidak                         lain dan tidak bukan adalah suatu kondisi dimana                         terdapat potensi kehilangan sesuatu yang berharga atau                         segala hal yang mengandung risiko. Namun demikian,                         perbuatan mengambil risiko dalam perilaku berjudi, perlu                         dibedakan pengertiannya dari perbuatan lain yang juga                         mengandung risiko. Ketiga unsur dibawah ini mungkin dapat                         menjadi faktor yang membedakan perilaku berjudi                         dengan perilaku lain yang juga mengandung risiko:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol style="font-family: Trebuchet MS; font-size: 10pt;"&gt;&lt;li&gt;                             &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6px 10px 0pt 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Perjudian                             adalah suatu kegiatan sosial yang melibatkan                             sejumlah uang (atau sesuatu yang berharga) dimana                             pemenang memperoleh uang dari yang kalah. &lt;o:p&gt;                             &lt;/o:p&gt;                             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;                           &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                             &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; margin-right: 10px;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Risiko&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;                             yang diambil bergantung pada kejadian-kejadian                             dimasa mendatang, dengan hasil yang tidak diketahui,                             dan banyak ditentukan oleh hal-hal yang bersifat                             kebetulan/keberuntungan. &lt;o:p&gt;                             &lt;/o:p&gt;                             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;                           &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;                             &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; margin-right: 10px;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Risiko&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;                             yang diambil bukanlah suatu yang harus dilakukan;                             kekalahan/kehilangan dapat dihindari dengan tidak                             ambil bagian dalam permainan judi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;perilaku berjudi memiliki banyak efek                         samping yang merugikan bagi si penjudi maupun                         keluarganya mungkin sudah sangat banyak disadari oleh                         para penjudi. Anehnya tetap saja mereka menjadi sulit                         untuk meninggalkan perilaku berjudi jika sudah terlanjur                         mencobanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dari                         berbagai hasil penelitian lintas budaya yang telah dilakukan                         para ahli diperoleh 5 (lima) faktor yang amat                         berpengaruh dalam memberikan kontribusi pada perilaku                         berjudi. Kelima faktor tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sosial Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Bagi                           masyarakat dengan status sosial dan ekonomi yang                           rendah perjudian seringkali dianggap sebagai suatu                           sarana untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Tidaklah                           mengherankan jika pada masa undian SDSB di Indonesia                           zaman orde baru yang lalu, peminatnya justru lebih banyak dari kalangan                           masyarakat ekonomi rendah seperti tukang becak, buruh,                           atau pedagang kaki lima. Dengan modal yang sangat                           kecil mereka berharap mendapatkan keuntungan yang                           sebesar-besarnya atau menjadi kaya dalam sekejab tanpa                           usaha yang besar. Selain itu kondisi sosial masyarakat yang                           menerima perilaku berjudi juga berperan besar terhadap                           tumbuhnya perilaku tersebut dalam komunitas&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Situasional&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Situasi                           yang bisa dikategorikan sebagai pemicu perilaku                           berjudi, diantaranya adalah tekanan dari teman-teman                           atau kelompok atau lingkungan&lt;span style=""&gt;                            &lt;/span&gt;untuk berpartisipasi dalam perjudian dan                           metode-metode pemasaran yang dilakukan oleh pengelola                           perjudian. Tekanan kelompok membuat sang calon penjudi                           merasa tidak enak jika tidak menuruti apa yang                           diinginkan oleh kelompoknya. Sementara metode                           pemasaran yang dilakukan oleh para pengelola perjudian                           dengan selalu mengekspose para penjudi yang berhasil                           menang memberikan kesan kepada calon penjudi bahwa                           kemenangan dalam perjudian adalah suatu yang biasa,                           mudah dan dapat terjadi pada siapa saja (padahal                           kenyataannya kemungkinan menang sangatlah kecil).                           Peran media massa seperti televisi dan film yang                           menonjolkan keahlian para penjudi yang "seolah-olah"                           dapat mengubah setiap peluang menjadi kemenangan atau                           mengagung-agungkan sosok sang penjudi, telah ikut pula                           mendorong individu untuk mencoba permainan judi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belajar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Sangatlah                           masuk akal jika faktor belajar memiliki efek yang                           besar terhadap perilaku berjudi, terutama menyangkut                           keinginan untuk terus berjudi. Apa yang pernah                           dipelajari dan menghasilkan sesuatu yang menyenangkan                           akan terus tersimpan dalam pikiran seseorang dan                           sewaktu-waktu ingin diulangi lagi. Inilah yang dalam                           teori belajar disebut sebagai &lt;i&gt; Reinforcement Theory                           &lt;/i&gt;                           yang mengatakan bahwa perilaku tertentu akan cenderung                           diperkuat/diulangi bilamana diikuti oleh pemberian                           hadiah/sesuatu yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan untuk menang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Persepsi                           yang dimaksudkan disini adalah persepsi pelaku dalam                           membuat evaluasi terhadap peluang menang yang akan                           diperolehnya jika ia melakukan perjudian. Para penjudi                           yang sulit meninggalkan perjudian biasanya cenderung                           memiliki persepsi yang keliru tentang kemungkinan                           untuk menang.  Mereka pada umumnya merasa sangat yakin                           akan kemenangan yang akan diperolehnya,&lt;span style=""&gt;                            &lt;/span&gt;meski pada kenyataannya peluang tersebut                           amatlah kecil karena keyakinan yang ada hanyalah suatu                           ilusi yang diperoleh dari evaluasi peluang&lt;span style=""&gt;                            &lt;/span&gt;berdasarkan sesuatu situasi atau kejadian yang                           tidak menentu dan sangat subyektif. Dalam benak mereka                           selalu tertanam pikiran: "kalau sekarang belum                           menang pasti di kesempatan berikutnya akan menang,                           begitu seterusnya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Percaya diri akan kemampuan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Penjudi                         yang merasa dirinya sangat trampil dalam salah satu atau                         beberapa jenis permainan judi akan cenderung menganggap                         bahwa keberhasilan/kemenangan dalam permainan judi                         adalah karena ketrampilan yang dimilikinya. Mereka                         menilai ketrampilan yang dimiliki akan membuat mereka                         mampu mengendalikan berbagai situasi untuk mencapai                         kemenangan &lt;i&gt;(illusion of control)&lt;/i&gt;. Mereka                         seringkali tidak dapat membedakan mana kemenangan yang                         diperoleh karena ketrampilan dan mana yang hanya                         kebetulan semata. Bagi mereka kekalahan dalam perjudian                         tidak pernah dihitung sebagai kekalahan tetapi dianggap                         sebagai “hampir menang”, sehingga mereka terus                         memburu kemenangan yang menurut mereka pasti akan                         didapatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin-right: 10px; margin-top: 6px; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Trebuchet MS;" lang="IN"&gt;Untuk                       memahami apakah perilaku berjudi termasuk dalam perilaku                       yang patologis, maka perlu dipahami terlebih dahulu kadar                       atau tingkatan penjudi tersebut. Hal ini penting mengingat                       bahwa perilaku berjudi termasuk dalam kategori perilaku                       yang memiliki kesamaan dengan pola perilaku adiksi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Trebuchet MS;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Pada                       dasarnya ada tiga tingkatan atau tipe penjudi, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 10px; margin-top: 6px; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Social Gambler&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 10px; margin-top: 6px; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Penjudi                         tingkat                         pertama adalah para penjudi yang masuk dalam kategori                         “normal” atau seringkali disebut &lt;i&gt;social gambler&lt;/i&gt;,                         yaitu penjudi yang sekali-sekali pernah ikut membeli                         lottery (kupon undian), bertaruh dalam pacuan kuda,                         bertaruh dalam pertandingan bola, permainan kartu atau                         yang lainnya. Penjudi tipe ini pada umumnya tidak                         memiliki efek yang negatif terhadap diri maupun                         komunitasnya, karena mereka pada umumnya masih dapat                         mengontrol dorongan-dorongan yang ada dalam dirinya.                         Perjudian bagi mereka dianggap sebagai pengisi waktu                         atau hiburan semata dan tidak mempertaruhkan sebagian                         besar pendapatan mereka ke dalam perjudian. Keterlibatan mereka                         dalam perjudian pun seringkali karena ingin bersosialisasi                         dengan teman atau keluarga. Di negara-negara dimana                         praktek perjudian tidak dilarang dan masyarakat terbuka                         terhadap suatu penelitian seperti di USA, jumlah                         populasi penjudi tingkat pertama ini diperkirakan                         mencapai lebih dari 90% dari orang dewasa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 10px; margin-top: 6px; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Problem Gambler&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 10px; margin-top: 6px; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Penjudi                         tingkat kedua disebut sebagai penjudi “bermasalah”                         atau &lt;i&gt;problem gambler&lt;/i&gt;, yaitu perilaku berjudi yang                         dapat menyebabkan terganggunya kehidupan pribadi,                         keluarga maupun karir, meskipun belum ada indikasi bahwa                         mereka mengalami suatu gangguan kejiwaan &lt;i&gt;(National                         Council on Problem Gambling USA, 1997).&lt;/i&gt;  Para                         penjudi jenis ini seringkali melakukan perjudian sebagai                         cara untuk melarikan diri dari berbagai masalah                         kehidupan. Penjudi                         bermasalah ini sebenarnya sangat berpotensi untuk masuk                         ke dalam tingkatan penjudi yang paling tinggi yang                         disebut penjudi pathologis jika tidak segera disadari                         dan diambil tindakan terhadap masalah-masalah yang                         sebenarnya sedang dihadapi. Menurut penelitian Shaffer,                         Hall, dan Vanderbilt (1999) yang dimuat dalam &lt;i&gt;American                         Journal of Public Health, No. 89,&lt;/i&gt;  ada 3,9% orang                         dewasa di Amerika Bagian Utara yang termasuk dalam                         kategori penjudi tingkat kedua ini dan 5% dari jumlah                         tersebut akhirnya menjadi penjudi patologis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 10px; margin-top: 6px; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;                       &lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pathological Gambler&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Penjudi                         tingkat ketiga disebut sebagai penjudi “pathologis”                         atau &lt;i&gt;pathological gambler&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;compulsive                         gambler&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ciri-ciri                         penjudi tipe ini adalah ketidakmampuannya melepaskan                         diri dari dorongan-dorongan untuk berjudi. Mereka sangat                         terobsesi untuk berjudi dan secara terus-menerus terjadi                         peningkatan frekuensi berjudi dan jumlah taruhan tanpa                         dapat mempertimbangkan akibat-akibat negatif yang                         ditimbulkan oleh perilaku tersebut, baik terhadap                         dirinya sendiri, keluarga, karir, hubungan sosial atau                         lingkungan disekitarnya.&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;i&gt;American                         Psychiatric Association&lt;/i&gt; atau APA  mendefinisikan                         ciri-ciri pathological gambling sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                         &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;The                         essential features of pathological gambling are a                         continuous or periodic loss of control over gambling; a                         progression, in gambling frequency and amounts wagered,                         in the preoccupation with gambling and in obtaining                         monies with which to gamble; and a continuation of                         gambling involvement despite adverse consequences”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Diakui                       atau pun tidak, praktek perjudian di Indonesia tetap saja                       tumbuh dan berkembang di seluruh penjuru negeri ini,                       apalagi dengan tidak kunjung adanya supremasi hukum                       seperti yang dicita-citakan oleh para kaum reformis selama                       ini. Dengan semakin banyaknya tempat-tempat perjudian dan                       tersedianya sarana yang memungkinkan para penjudi untuk                       berpartisipasi tanpa harus hadir langsung secara fisik di                       tempat perjudian tersebut (cth. lewat internet atau                       telepon), maka dapat dipastikan bahwa para penjudi                       pathologis akan terus bertambah dari hari ke hari.                       Kenyataan ini tentu saja harus menjadi perhatian serius                       para professional seperti psikolog, psikiater, konselor                       atau terapist dalam membimbing para penjudi tersebut                       supaya dapat kembali ke kehidupan normal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/783632003528069825-4304584715231505369?l=dedexmulman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedexmulman.blogspot.com/feeds/4304584715231505369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedexmulman.blogspot.com/2009/02/perilaku-berjudi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/783632003528069825/posts/default/4304584715231505369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/783632003528069825/posts/default/4304584715231505369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedexmulman.blogspot.com/2009/02/perilaku-berjudi.html' title='Perilaku Berjudi'/><author><name>Mulman Prasetya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14786058357736468593</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_awvYfCdLlx4/SaSYLjsDR_I/AAAAAAAAAAs/RtH2PfvAfaA/S220/n1661743753_101535_9022.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-783632003528069825.post-8211430519340532138</id><published>2009-02-02T09:23:00.005+07:00</published><updated>2009-02-02T09:48:58.338+07:00</updated><title type='text'>Merdeka atau Mati!</title><content type='html'>&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Lebih dari 58 tahun lalu,                       bangsa Indonesia pernah punya semboyan: Merdeka atau Mati!                       Dikaji lebih jauh, ternyata semboyan itu tidak sekedar                       punya arti lebih baik mati daripada tidak merdeka.&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Kalau dirujukkan pada hukum alam, semboyan itu juga                       punya arti pilihan hidup. Kalau kita tidak bisa hidup                       dengan kemerdekaan maka kita&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;akan menjalani hidup dengan kematian. Bentuk                       kematian hidup itu apabila dirujukkan pada pendapat Robin                       S. Sharma adalah konflik-diri yang mengakibatkan potensi                       tidak bisa diaktualkan secara optimal&lt;i&gt;.&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;“Too many people die at 20 and are buried at 80.                       Too many people coast through life, never manifesting                       their potential and using only a fraction of their                       personal talents”&lt;/i&gt;. Ajaran kitab suci memberi istilah                       dengan hari kiamat di mana kebanyakan orang bertanya-tanya:&lt;span style=""&gt;                         &lt;/span&gt;“Mengapa nasib saya seperti ini?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                       &lt;/div&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 8px; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Secara harfiah, kemerdekaan                       adalah kemandirian hidup, kebebasan, dan ketegasan. Dalam                       kamus, kemerdekaan diartikan sebagai &lt;i&gt;self governing,                       free from intimidation, acting or thinking upon one’s                       own-line&lt;/i&gt;. Kemerdekaan hidup seperti yang termaktub                       dalam teks proklamasi adalah hak (asasi). Menurut hukum                       sebab akibat hak adalah akibat yang diciptakan oleh sebab                       bernama kewajiban. Hukum alam menjadikan kewajiban sebagai                       syarat mutlak mendapatkan hak atau menyuruh mendahulukan                       kepatuhan terhadap kewajiban ketimbang mendahulukan                       tuntutan hak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sayangnya                       kita secara mental-kultural lebih menomorsatukan hak dari                       pada kewajiban, minimalnya dalam ungkapan pembahasaan                       hidup harian. Mulut kita sudah terlatih mengucapkan hak                       dan kewajiban ketimbang kewajiban dan hak. Secara &lt;i&gt;mindset                       &lt;/i&gt;kita lebih berat memikirkan apa yang tertinggal (dari                       hak) ketimbang memikirkan apa yang kita tinggalkan (dari                       kewajiban).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 8px; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 8px; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); font-family: arial; text-align: justify;"&gt;                                                &lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemandirian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Kemerdekaan adalah                         kemandirian &lt;i&gt;(self governing)&lt;/i&gt; yang sering                         diartikan dengan kalimat berdiri di atas kaki sendiri.                         Kalimat itu mengisyaratkan bahwa orang yang mandiri itu                         adalah orang berdiri tegak&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;dengan kakinya.&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;Salah satu lawan kata dari berdiri-tegak adalah                         lari yang oleh Jalaluddin Rumi,&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;diistilah dalam puisinya dengan kalimat lari dari                         kemauan bebas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Seluruh                         makhluk melarikan diri dari kemauan bebas dan                         keberadaan-diri mereka menuju ke diri mereka yang tak                         sadar”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau                         kita ingin bebas dengan mencari kebebasan maka                         sebenarnya yang telah kita lakukan adalah menciptakan                         belenggu karena kebebasan (kemauan bebas atau kemerdekan)                         adalah pencapaian dari usaha menciptakan diri /                         memandirikan diri. Lantas, apa yang sering mendorong                         orang ingin lari dari kemerdekaan untuk mencari                         kebebasan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Akar penyebabnya adalah                         kekalahan atas musuh-diri di dalam sehingga ia&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;tidak menjadi &lt;i&gt;self governor&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;Musuh-diri itu menurut Jim Rohn dalam tulisannya                         berjudul &lt;i&gt;“Facing the enemy within”&lt;/i&gt; (2002)                         umumnya ada&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;lima,                         yaitu ketakutan &lt;i&gt;(fear),&lt;/i&gt; kekhawatiran &lt;i&gt;(worry),&lt;/i&gt;                         keragu-raguan &lt;i&gt;(doubt),&lt;/i&gt; plin-plan &lt;i&gt;(indecision),&lt;/i&gt;                         dan terlalu hati-hati &lt;i&gt;(over-caution).&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;Kalau ketakutan yang menang maka kita tidak                         menjadi pemberani padahal keberanian itu dibutuhkan.                         Kalau kekhawatiran yang menang, kita tidak menjadi orang                         yang bahagia dengan diri sendiri &lt;i&gt;(happiness                         manufacture)&lt;/i&gt;. Kalau keragu-raguan yang menang maka                         kita tidak menjadi orang yang yakin dengan kebenaran                         keyakinan. Kalau plin-plan yang menang maka kita tidak                         menjadi sosok yang telah kita putuskan. Demikian halnya                         kalau terlalu hati-hati yang menang maka kita tidak                         pernah menjadi orang yang sederhana, padahal biasanya &lt;i&gt;the                         simple is the real&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Kalau dikaitkan dengan                         pendapat Robin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;S.                         Sharma di atas, maka kemerdekaan diri itu tidak bisa                         dicari tetapi diciptakan dengan menjalani disiplin-diri                         untuk menemukan / menggunakan keunggulan (potensi).                         Hukum paradok yang berlaku di sini adalah kemerdekaan                         itu diperoleh dengan kepatuhan disiplin atau berdiri                         tegak bukan lari atau bebas dari disiplin. Alasannya,                         seluruh keunggulan manusia itu baru dapat ditemukan dan                         digunakan setelah menjalani disiplin pembelajaran untuk                         memperbaiki yang salah, menambah yang kurang dan                         menggunakan yang masih nganggur&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;dalam kurun waktu yang tidak bisa secara &lt;i&gt;one-off&lt;/i&gt;.                         Dikaitkan dengan pesan kitab suci di atas, kiamat                         duniawi itu disebabkan oleh pengabaian / tidak disiplin                         (indisipliner) untuk menjalani perbaikan yang dikiaskan                         hanya sekecil biji peluru tetapi akibatnya sebesar hidup                         merdeka dan hidup mati.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;                                                &lt;/p&gt;&lt;p face="arial" style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bebas                         Intimidasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255); font-family: arial; text-align: justify;"&gt;                                              &lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Kemerdekaan adalah bebas                       dari intimidasi orang lain yang umumnya&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;berupa intimidasi tanggung jawab (hutang) dan                       intimidasi tekanan (penjajahan) orang lain. Sudah menjadi                       titah alam kalau kita diberi jalan merealisasikan                       keinginan dengan menciptakan kesepakatan dengan orang                       lain. Sehebat apapun seseorang sebagai pribadi tetapi                       kalau tidak mendapatkan kesepakatan dengan orang maka                       kehebatan itu hanya sebatas hebat bagi diri sendiri.                       Seseorang dipanggil presiden, CEO perusahaan atau menjadi                       bawahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena                       mendapat kesepakatan / dukungan dari / dengan orang lain.&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;Bahkan oleh temuan survey dikatakan bahwa sebagian                       besar tawaran rasa bahagia dan nestapa terjadi dari                       interaksi, lalu sebagian kecilnya dari &lt;i&gt;self                       accomplishment.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Cukup beralasan kalau                       Michael Angier berani mengatakan, sembilan puluh persen                       dari problem kemanusiaan adalah masalah ketaatan terhadap                       kesepakatan yang dibikin dengan orang lain. &lt;i&gt;“Your                       agreement show your integrity . About 90 percent of world                       problem result from people do not keeping their agreement"&lt;/i&gt;                       (2002).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tentu                       maksud dari kata &lt;i&gt;problem&lt;/i&gt; di sini adalah hilangnya                       kemerdekaan karena mencari kebebasan. Setiap kesepakatan                       yang kita ciptakan dengan orang lain pasti mengandung                       kontrak tanggung jawab baik secara psikologis atau juridis                       dan begitu tanggung jawab itu kita abaikan maka yang lahir                       adalah intimidasi. Tak salah, kalau&lt;span style=""&gt;                         &lt;/span&gt;pesan kenabian mengingatkan agar kita                       mengantisipasi kemungkinan adanya hutang (tanggung jawab)                       di mana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;resource&lt;/i&gt;                       untuk membayar tidak kita miliki.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Intimidasi memang                       dikeluarkan dari orang lain tetapi sebabnya diciptakan                       oleh bobot ketaatan kita atas kesepakatan. Kalau merujuk                       pada hukum daya tarik, sebenarnya jurus-hidup yang paling                       selamat adalah menarik orang lain &lt;i&gt;(to attract)&lt;/i&gt;                       dengan menciptakan daya tarik-diri yang menarik                       ketertarikan. Pada dasarnya jurus ini lebih mudah kita                       jalankan hanya saja kebanyakan kita telah biasa lebih                       dahulu memulai dari start dengan menggunakan jurus yang                       sebaliknya: mendorong orang lain &lt;i&gt;(to push)&lt;/i&gt;. Jadi                       yang terjadi bukan tidak mampu melainkan sudah terlanjur                       salah memilih start. Meskipun salah tetapi masih sangat                       terlalu mungkin untuk diperbaiki dengan cara menaikkan                       kemampuan menaati &lt;i&gt;(the ability of obedience)&lt;/i&gt; dan                       menurunkan janji sehingga masih tersisa peluang untuk                       memberi orang lain lebih dari sekedar yang kita janjikan.                       Di sini, musuh kita adalah nafsu untuk mengambil lebih                       banyak dari pemberian sedikit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Bentuk intimidasi lain                       adalah penjajahan yang disebabkan oleh kelemahan &lt;i&gt;(personal                       weakness).&lt;/i&gt; Jalan untuk memerdekakan diri dari                       penjajahan orang lain saat menjalin kesepakatan bukanlah                       lari menghindari melainkan, seperti disarankan oleh                       Charles Handy, memperkuat power. Ada tiga power yang bisa                       kita pilih sesuai keadaan-diri untuk memperkuat &lt;i&gt;bargain                       position,&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yaitu: &lt;i&gt;1) Resource power &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;( kekayaan, kekuatan fisik, kecantikan, ketampanan, dst); 2) &lt;i&gt;Position                       power &lt;/i&gt;(jabatan, kepemimpinan, pekerjaan, dst); 3) &lt;i&gt;Expert                       Power&lt;/i&gt; (pengetahuan khusus, penguasaan informasi,                       spesialisasi, dst). Kalau tidak memiliki keseluruhan                       ambillah yang sebagian tetapi jangan sampai tidak memiliki                       bagian dari salah satu di antara ketiganya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketegasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;                                              &lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Ketegasan adalah kemampuan                       menyelaraskan apa yang kita putuskan di tingkat kreasi                       mental dengan apa yang kita lakukan (eksekusi) di tingkat                       kreasi fisik sesuai proses yang sudah diakarkan pada                       prinsip. Kreasi mental baru angka nol kalau tidak diolah                       berdasarkan proses yang berprinsip tidak beranak menjadi                       angka satu yang berkelanjutan menjadi dua, tiga dan                       seterusnya tetapi tetap angka nol atau hanya satu. Dalam                       praktek harian, hampir seluruh konsep hidup itu bagus                       tetapi tidak selamanya menghasilkan praktek (hasil) yang                       bagus. Sebabnya bukan karena tidak tahu atau tidak mampu                       tetapi kurang tegas dalam memperjuangkan proses menurut                       akar prinsip.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin-right: 15px; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Ketegasan juga punya arti&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;keputusan yang kita putuskan dengan memutuskan atau                       pilihan hidup yang kita tentukan dengan kesadaran memilih.                       Masalah pelanggaran yang kerapkali kita lakukan terhadap hukum                       memilih (baca: &lt;i&gt;life is choice and consequence&lt;/i&gt;)                       adalah lupa atau tidak sadar bahwa kita telah menentukan                       pilihan. Kepada orang lain dan diri kita mungkin kita                       masih punya alasan untuk dimaafkan tetapi hukum sebab                       akibat ini sama sekali tidak punya ampun. Begitu kita                       memilih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terlepas                       sadar atau tidak sadar, lupa atau ingat, maka pilihan itu                       secara otomatis menghasilkan konsekuensi. Begitu luasnya                       wilayah hidup yang tidak terjamah oleh ingatan kita maka                       ajaran ketuhanan menyediakan pintu di mana do’a                       dikatakan sebagai kekuatan untuk menunda, mengalihkan,                       membatalkan akibat dari pilihan yang salah tetapi di luar                       kontrol ingatan kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="arial" style="margin-right: 15px; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Kedua arti ketegasan di atas                       adalah kemerdekaan. Kalau kita sering menyimpang dari                       jalur proses yang benar maka kita akan dijajah oleh                       kesalahan atau kegagalan yang bertubi-tubi. Kita dibikin                       capek oleh nafsu bongkar-pasang konsep hidup karena                       praktek coba-coba bukan uji coba. Teori manajemen                       mengajarkan, buatlah rencana dengan cepat tetapi jangan                       cepat-cepat mengubah rencana kalau inspirasi untuk                       mengubah tidak datang dari&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;melakukan rencana. Demikian juga kalau kita sering                       lupa atau tidak sadar. Agar kita selalu ingat maka langkah                       yang bisa kita lakukan adalah pembiasaan. Pesan bijak                       bilang kebiasaan melahirkan kesempurnaan. Pengulangan                       adalah ibu kesempurnaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; color: rgb(255, 255, 255); font-family: arial; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Akhirnya,                         kemerdekaan ternyata tidak saja cukup dengan kita                         peringati tetapi perlu kita tanggapi &lt;i&gt;(response) &lt;/i&gt;dengan                         pilihan untuk memerdekakan diri. Menurut kata pengamat,                         undangan kepada penjajahan baru adalah kebodohan,                         keterbelakangan dan kemiskinan dalam arti yang luaaas.                         Mari memerdekakan diri. Semoga berguna.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-right: 15px; margin-top: 18px; margin-bottom: 18px; color: rgb(255, 255, 255); font-family: arial; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/783632003528069825-8211430519340532138?l=dedexmulman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedexmulman.blogspot.com/feeds/8211430519340532138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedexmulman.blogspot.com/2009/02/merdeka-atau-mati.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/783632003528069825/posts/default/8211430519340532138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/783632003528069825/posts/default/8211430519340532138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedexmulman.blogspot.com/2009/02/merdeka-atau-mati.html' title='Merdeka atau Mati!'/><author><name>Mulman Prasetya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14786058357736468593</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_awvYfCdLlx4/SaSYLjsDR_I/AAAAAAAAAAs/RtH2PfvAfaA/S220/n1661743753_101535_9022.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-783632003528069825.post-9157287889822273610</id><published>2009-01-31T12:27:00.005+07:00</published><updated>2009-02-02T09:49:12.244+07:00</updated><title type='text'>Obesitas dan faktor penyebabnya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;      Obesitas atau yang biasa kita kenal sebagai                         kegemukan merupakan suatu masalah yang cukup merisaukan                         di kalangan remaja.  Pada remaja putri, kegemukan                         menjadi permasalahan yang cukup berat, karena keinginan                         untuk tampil sempurna yang seringkali diartikan dengan                         memiliki tubuh ramping/langsing dan proporsional,                         merupakan idaman bagi mereka. Hal ini semakin diperparah                         dengan berbagai iklan di televisi, surat kabar dan media                         massa lain yang selalu menonjolkan figur-figur wanita                         yang langsing dan  iklan berbagai macam ramuan                         obat-obatan, makanan dan minuman untuk merampingkan                         tubuh. Akibatnya jutaan rupiah uang dibelanjakan untuk                         diet ketat, obat-obatan, dan perawatan-perawatan guna                         menurunkan berat badan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;    Tidak berbeda dengan remaja putri,  remaja                         pria pun takut menjadi gemuk. Bagi mereka, pria yang                         memiliki bobot berlebih dianggap akan mengalami                         permasalahan yang cukup berat  untuk menarik                         perhatian lawan jenis. Banyak remaja pria yang berharap                         dapat membuat tubuhnya ideal (menjadi sedikit berotot/kekar)                         dan keinginan mereka untuk itu pada sebagian remaja                         disalurkan melalui kegiatan olah raga, namun sayangnya                         bagi mereka yang kegemukan kegiatan olah raga akan                         terasa  sebagai siksaan. Hal inilah yang seringkali                         dimanfaatkan oleh para penjual produk-produk obat-obatan                         atau makanan penurun berat badan dan alat olahraga                         ringan untuk memperlaris dagangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"  &gt;Dengan                         melihat fenomena yang terjadi sekarang ini, tidaklah                         berlebihan jika dikatakan bahwa obesitas merupakan salah                         masalah rumit  yang seringkali dihadapi remaja dan juga                         termasuk orang dewasa.  Hal ini tercermin dalam                         banyak dana yang dikeluarkan untuk melakukan diet,                         membeli obat-obatan pelangsing dan peralatan olahraga                         yang bertujuan untuk menurunkan berat badan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"  &gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;Obesitas atau kegemukan terjadi pada saat badan                         menjadi gemuk (&lt;i&gt;obese&lt;/i&gt;) yang disebabkan penumpukan &lt;i&gt; adipose                         &lt;/i&gt;                         (&lt;i&gt;adipocytes: &lt;/i&gt; jaringan lemak khusus yang disimpan tubuh)                         secara berlebihan. Jadi obesitas adalah keadaan dimana                         seseorang memiliki berat badan yang lebih berat                         dibandingkan berat idealnya yang disebabkan terjadinya                         penumpukan lemak di tubuhnya.      &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     &lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"  &gt;Dihadapkan                         pada obesitas, tidak jarang seorang remaja &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;bereaksi                         secara berlebihan. Tidak jarang pula mereka menjadi                         frustrasi karena meskipun sudah melakukan diet ketat dan                         mengkonsumsi ramuan atau obata-obatan penurun berat                         badan, ternyata bobot tubuh tidak kunjung susut. Apa                         sebenarnya yang terjadi? Untuk menjawab pertanyaan                         tersebut kita perlu melihat faktor-faktor yang menjadi                         penyebab obesitas. Menurut para ahli, didasarkan pada                         hasil penelitian, obesitas dapat dipengaruhi oleh                         berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya                         adalah faktor genetik, disfungsi salah satu bagian otak,                         pola makan yang berlebih, kurang gerak / olahraga, emosi,                         dan faktor lingkungan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Genetik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                                                       &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;Kegemukan dapat diturunkan dari generasi                         sebelumnya pada generasi berikutnya di dalam sebuah                         keluarga. Itulah sebabnya kita seringkali menjumpai                         orangtua yang gemuk cenderung memiliki anak-anak yang                         gemuk pula.  Dalam hal ini nampaknya faktor genetik                         telah ikut campur dalam menentukan jumlah unsur sel                         lemak dalam tubuh.  Hal ini dimungkinkan karena                         pada saat  ibu yang obesitas sedang hamil maka                         unsur sel lemak yang berjumlah besar dan melebihi ukuran                         normal, secara otomatis akan diturunkan kepada sang bayi                         selama dalam kandungan. Maka tidak heranlah bila bayi                         yang lahirpun memiliki unsur lemak tubuh yang relatif                         sama besar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;                                                                        &lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;Kerusakan                         Pada Salah satu Bagian Otak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;Sistem                         pengontrol yang mengatur perilaku makan terletak pada                         suatu bagian otak yang disebut &lt;i&gt;hipotalamus&lt;/i&gt; –sebuah                         kumpulan inti sel dalam otak yang langsung berhubungan                         dengan bagian-bagian lain dari otak dan kelenjar dibawah                         otak. Hipotalamus mengandung lebih banyak pembuluh darah                         dari daerah lain pada otak, sehingga lebih mudah                         dipengaruhi oleh unsur kimiawi dari darah. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;Dua bagian hipotalamus yang mempengaruhi                         penyerapan makan yaitu hipotalamus lateral (HL) yang                         menggerakan nafsu makan (awal atau pusat makan);                         hipotalamus ventromedial (HVM) yang bertugas merintangi                         nafsu makan (pemberhentian atau pusat kenyang). Dari                         hasil penelitian didapatkan bahwa bila HL rusak/hancur                         maka individu menolak untuk makan atau minum, dan akan                         mati kecuali bila dipaksa diberi makan dan minum (diberi&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;infus). Sedangkan bila kerusakan terjadi pada                         bagian HVM maka seseorang akan menjadi rakus dan                         kegemukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pola Makan Berlebih&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 8px; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;Orang yang kegemukan lebih responsif dibanding                         dengan orang berberat badan normal terhadap isyarat                         lapar eksternal, seperti rasa dan bau makanan, atau                         saatnya waktu makan. Orang yang gemuk cenderung makan                         bila ia merasa ingin makan, bukan makan pada saat ia                         lapar. Pola makan berlebih inilah yang me&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:10;"   lang="IN"&gt;nyebabkan                         mereka sulit untuk keluar dari kegemukan jika sang                         individu tidak memiliki kontrol diri dan motivasi yang                         kuat untuk mengurangi berat badan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 8px; font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;Kurang gerak/ Olahraga&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 8px; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;Tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka                         terhadap pengendalian berat tubuh. Pengeluaran energi                         tergantung dari dua faktor : 1) tingkat aktivitas dan                         olah raga secara umum; 2) angka metabolisme basal atau                         tingkat energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan                         fungsi minimal tubuh. Dari kedua faktor tersebut                         metabolisme basal memiliki tanggung jawab dua pertiga                         dari pengeluaran energi orang normal.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi satu                         pertiga pengeluaran energi seseorang dengan berat                         normal, tapi bagi orang yang memiliki kelebihan berat                         badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting.                         Pada saat berolahraga kalori terbakar, makin banyak                         berolahraga maka semakin banyak kalori yang hilang.                         Kalori&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara                         tidak langsung mempengaruhi sistem metabolisme basal.                         Orang yang duduk bekerja seharian akan mengalami                         penurunn metabolisme basal tubuhnya. Kekurangan                         aktifitas gerak akan menyebabkan suatu siklus yang hebat,                         obesitas membuat kegiatan olah raga menjadi sangat sulit                         dan kurang dapat dinikmati dan kurangnya olah raga                         secara tidak langsung akan mempengaruhi turunnya                         metabolisme basal tubuh orang tersebut. Jadi olah raga                         sangat penting dalam penurunan berat badan tidak saja                         karena dapat membakar kalori, melainkan juga karena                         dapat membantu mengatur berfungsinya metabolis normal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 8px; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengaruh Emosional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;                       &lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;Sebuah pandangan populer adalah bahwa obesitas                         bermula dari masalah emosional yang tidak teratasi.                         Orang-orang gemuk haus akan cinta kasih, seperti                         anak-anak makanan dianggap sebagai simbol kasih sayang                         ibu, atau kelebihan makan adalah sebagai subtitusi untuk                         pengganti kepuasan lain yang tidak tercapai dalam                         kehidupannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Walaupun                         penjelasan demikian cocok pada beberapa kasus, namun                         sebagian orang yang kelebihan berat badan tidaklah lebih                         terganggu secara psikologis dibandingkan dengan orang                         yang memiliki berat badan normal. Meski banyak pendapat                         yang mengatakan bahwa 0rang gemuk biasanya tidak                         bahagia, namun sebenarnya ketidakbahagiaan /tekanan batinnya lebih                         diakibatkan sebagai hasil dari kegemukannya. Hal                         tersebut karena dalam suatu masyarakat seringkali tubuh kurus                         disamakan dengan kecantikan, sehingga orang gemuk cenderung malu                         dengan penampilannya dan kesulitannya mengendalikan diri                         terutama dalam hal yang berhubungan dengan                         perilaku makan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;Orang gemuk seringkali mengatakan bahwa mereka                         cenderung makan lebih banyak apa bila mereka tegang atau                         cemas, dan eksperimen membuktikan kebenarannya. Orang                         gemuk makan lebih banyak dalam suatu situasi yang sangat                         mencekam; orang dengan berat badan yang normal makan                         dalam situasi yang kurang mencekam (McKenna,1999).                         Dalam suatu studi yang dilakukan White (1977) pada kelompok orang dengan berat badan                         berlebih dan kelompok orang dengan berat badan yang                         kurang, dengan                         menyajikan kripik (makanan ringan) setelah mereka menyaksikan empat                         jenis film yang mengundang emosi yang berbeda, yaitu film yang                         tegang, ceria, merangsang gairah seksual dan sebuah                         ceramah yang membosankan. Pada orang gemuk didapatkan                         bahwa mereka lebih banyak menghabiskan kripik setelah menyaksikan                         film yang tegang dibanding setelah menonton film yang                         membosannkan. Sedangkan pada orang dengan berat badan                         kurang                         selera makan kripik tetap sama setelah menonton film yang tegang                         maupun film yang membosankan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lingkungan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"  &gt;Faktor                             lingkungan ternyata juga mempengaruhi seseorang                             untuk menjadi gemuk. Jika seseroang dibesarkan dalam                             lingkungan yang menganggap gemuk adalah simbol                             kemakmuran dan keindahan maka orang tersebut akan                             cenderung untuk menjadi gemuk. Selama pandangan                             tersebut  tidak dipengaruhi oleh faktor                             eksternal maka orang yang obesitas tidak akan                             mengalami masalah-masalah psikologis sehubungan                             dengan kegemukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"  &gt;Nah,                             bagi para remaja yang kebetulan memiliki berat badan                             berlebih dan belum berhasil mengurangi berat badan,                             janganlah merasa frustrasi. Mungkin dengan                             mengetahui faktor-faktor penyebab kegemukan seperti                             tertulis diatas Anda akan menemukan penyebab mengapa                             berat badan Anda tidak kunjung susut. Satu hal yang                             paling penting untuk diingat adalah sejauh tubuh                             anda tidak mengidap suatu penyakit maka tidak ada                             yang salah dengan tubuh yang besar (gemuk). Hal lain                             yang juga tidak kalah penting adalah cobalah untuk                             berolahraga secara teratur dan menjaga agar emosi                             anda tetap terkendali. Oke.... Semoga bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 6px; color: rgb(255, 255, 255); text-align: justify;"&gt;                       &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/783632003528069825-9157287889822273610?l=dedexmulman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedexmulman.blogspot.com/feeds/9157287889822273610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dedexmulman.blogspot.com/2009/01/obesitas-dan-faktor-penyebabnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/783632003528069825/posts/default/9157287889822273610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/783632003528069825/posts/default/9157287889822273610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedexmulman.blogspot.com/2009/01/obesitas-dan-faktor-penyebabnya.html' title='Obesitas dan faktor penyebabnya'/><author><name>Mulman Prasetya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14786058357736468593</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_awvYfCdLlx4/SaSYLjsDR_I/AAAAAAAAAAs/RtH2PfvAfaA/S220/n1661743753_101535_9022.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
